Selasa, 16 Februari 2010

Globalisasi Ekonomi dan Ekspor

Usaha Kecil dan Menengah Indonesia

Tulus Tambunan

LP3E-Kadin Indonesia

abstraksi

Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi dan komunikasi sangat penting, yang dapat menyebabkan terjadinya penipisan batas-batas antar negara ataupun antar daerah di suatu wilayah.

Era globalisasi membuka peluang sekaligus tantangan bagi pengusaha Indonesia termasuk usaha kecil, karena pada era ini daya saing produk sangat tinggi, live cycle product relatif pendek mengikuti trend pasar, dan kemampuan inovasi produk relatif cepat. Ditinjau dari sisi ekspor, liberalisasi berdampak positif terhadap produk tekstil/pakaian jadi , akan tetapi kurang menguntungkan sektor pertanian khususnya produk makanan.

Kinerja ekspor UKM lebih kecil dibandingkan dengan negara tetangga seperti malaysia, Filipina dan UKM, baik dalam hal nilai ekspor maupun dalam hal divesifikasi produk. Ini menunjukkan ekspor produk UKM Iebih terkonsentrasi pada produk tradisional yang memiliki keunggulan komparatif seperti pakaian jadi, meubel.

Mengingat ketatnya persaingan yang dihadapi produk ekspor Indonesia termasuk UKM, maka Indonesia mengambil langkah-langkah strategis, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Langkah-langkah strategis jangka panjang diantaranya diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia, teknologi dan jaringan bisnis secara global. Sedangkan langkah-langkah strategis jangka pendek diantaranya, melakukan diversifikasi produk, menjalin kerjasama dengan pemerintah dan perusahaan besar, produksi, memperkuat akses ke sumber-sumber informasi dan perbaikan mutu.

Fenomena Globalisasi Ekonomi

Tidak ada definisi yang baku atau standar mengenai globalisasi, tetapi secara sederhana globalisasi ekonomi dapat diartikan sebagai suatu proses dimana semakin banyak negara yang terlibatdalam kegiatan ekonomi dunia. Jadi, jika pada periode sejak perang dunia kedua berakhir hingga tahun 1970-an ekonomi dunia didominasi oleh ekonomi Amerika Serikat (AS), sekarang ini walaupun produk domestik bruto (PDB) AS masih besar yakni sekitar 45% dari PDB dunia, peran dari ekonomi Uni Eropa, Jepang dan negara-negara yang tergolong dalam newly industrialized countries (NICs), seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Cina jauh lebih kuat sebagai motor penggerak perekonomian dunia. Semakin mengglobalnya suatu negara di dalam perekonomian dunia dapat dilihat, misalnya dari peningkatan perdagangan internasionalnya (ekspor dan impor) yang tercerminkan antara lain pada peningkatan pangsa ekspornya di pasar global dan peningkatan rasio impor terhadap PDB-nya; semakin aktif terlibat dalam proses produksi yang melibatkan banyak negara (misalnya dalam membuat pesawat Boeing lebih dari 50 negara terlibat yang masing-masing membuat bagian-bagian tertentu dari pesawat tersebut, atau dalam membuat pesawat Airbus, sejumlah negara Eropa terlibat dalam proses pembuatannya), dan semakin besar arus investasi asing yang masuk ke negara tersebut atau semakin besarnya investasi dari negara tersebut ke negara-negara lain.

Jadi, proses globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan di dalam perekonomian dunia, yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam laju yang semakin pesat, mengikuti kemajuan teknologi yang juga prosesnya semakin cepat. Perkembangan ini telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan dan juga mempertajam persaingan antar negara, tidak hanya dalam perdagangan internasional tetapi juga dalam kegiatan investasi, finansial dan produksi. Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya batas-batas kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara. Dalam tingkat globalisasi yang optimal arus produk dan faktor-faktor produksi lintas negara atau regional akan selancar lintas kota di suatu negara atau desa di dalam suatu kecamatan. Pada tingkat ini, seorang pengusaha yang punya pabrik di Kalimantan Barat setiap saat bisa memindahkan usahanya ke Serawak atau Filipina tanpa ada halangan, baik halangan logistik maupun halangan birokrasi dari pihak pemerintah Malaysia atau Filipina maupun dari pemerintah Indonesia dalam urusan administrasi seperti izin dan sebagainya.

Semakin menipisnya batas-batas kegiatan ekonomi secara nasional maupun regional disebabkan oleh banyak hal, diantaranya menurut Halwani (2002) adalah komunikasi dan transportasi yang semakin canggih dan murah, lalu lintas devisa yang semakin bebas, ekonomi negara yang semakin terbuka, penggunaan secara penuh keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif tiap-tiap negara, metode produksi dan perakitan dengan organisasi manajemen yang semakin efisien, dan semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di hampir seantero dunia. Selain itu, penyebab-penyebab lainnya adalah semakin banyaknya industri yang bersifat footloose akibat kemajuan teknologi (yang mengurangi pemakaian sumber daya alam), semakin tingginya pendapatan rata-rata per kapita, semakin majunya tingkat pendidikan mayarakat dunia, ilmu pengetahuan dan teknologi di semua bidang, dan semakin banyaknya jumlah penduduk dunia.

Dampak dari Globalisasi

Dampak nyata dari globalisasi terhadap perekonomian Indonesia adalah terutama pada dua area yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, yakni produksi dalam negeri dan perdagangan luar negeri. Globalisasi yang didorong oleh era perdagangan bebas dan liberalisasi pasar finansial dunia bisa berpengaruh negatif atau positif terhadap produksi dalam negeri. Pengaruh negatif bisa disebabkan oleh barang impor yang semakin menguasai pasar domestik sehingga mematikan produksi dalam negeri atau menurunkan ekspor Indonesia karena daya saingnya rendah. Turunnya ekspor bisa berdampak negatif terhadap produksi dalam negeri jika sebagian besar dari barang-barang yang dibuat di dalam negeri untuk tujuan ekspor, atau karena kurangnya dana untuk membiayai proses produksi yang disebabkan oleh berkurangnya devisa dari hasil ekspor. Sebaliknya, jika Indonesia mempunyai daya saing yang baik, maka liberalisasi perdagangan dunia membuka peluang yang besar bagi ekspor Indonesia, yang berarti ekspor meningkat dan selanjutnya mendorong pertumbuhan dan memperluas diversifikasi produksi di dalam negeri.

Sudah cukup banyak studi yang melakukan simulasi-simulasi mengenai dampak dari liberalisasi perdagangan terhadap negara-negara yang terlibat, misalnya terhadap perubahan output dan ekspor. Diantaranya dari UNCTAD (1999) yang hasil simulasinya terhadap sejumlah negara-negara Asia termasuk Indonesia sebagai sampel penelitian, menunjukan bahwa perdagangan terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia adalah yang paling kecil setelah Turkey (Tabel 1). Walaupun, studi ini tidak terlalu spesifik mengenai dampak terhadap ekspor secara sektoral, hasilnya memberikan suatu indikasi bahwa Indonesia mempunyai banyak masalah, baik dari sisi suplai (seperti keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur) maupun sisi permintaan (seperti kualitas) dibandingkan negara-negara lain sehingga Indonesia tidak (belum) bisa mengoptimalisasikan keuntungan dari liberalisasi perdagangan dunia (WTO) atau regional (AFTA atau APEC).

Tabel 1 Pertumbuhan Ekpor Setelah Liberalisasi Perdagangan Luar Negeri (PLN) di Indonesia dan Beberapa Negara Asia Lainnya (%)

Negara

Tahun dari

liberalisasi PLN

Dua Tahun Pertama setelah liberalisasi PLN

Sepuluh Tahun Berikutnya

Setelah Liberalisasi PLN

Indonesia

Malaysia

Filipina

Thailand

Turkey

1986

1988

1986

1986

1989

2

18

15

31

5

13

18

15

17

11

Sumber: UNCTAD (1999)

Studi lainnya adalah dari Feridhanusetyawan dan Pangestu yang mengevaluasi bentuk-bentuk liberalisasi perdagangan yang berbeda yang dilakukan oleh Indonesia selama ini sejak tahun 1980an, dengan menggunakan suatu kerangka CGE global (Global Trade Analysis Project). Feridhanusetyawan dan Pangestu membagi ekonomi dunia kedalam 19 wilayah dan 12 sektor seperti yang dapat dilihat di Tabel 5 dan Tabel 6. Liberalisasi perdagangan membuat realokasi dari sumber daya produksi lebih baik, yang terrefleksikan di dalam perubahan-perubahan dari pola produksi dan ekspor sektoral. Tabel 5 memperlihatkan perkiraan dampak dari liberalisasi perdagangan terhadap komposisi output di Indonesia, yang dinyatakan dalam perbedaan-perbedaan persentase dari hasil-hasil tanpa liberalisasi. Tabel 6 memperlihatkan data mengenai dampak dari liberalisasi perdagangan terhadap nilai dari ekspor. Secara umum, hasil-hasil simulasi mereka menunjukkan bahwa dalam semua skenario liberalisasi perdagangan, sumber daya produksi pindah menuju sektor tekstil dan pakaian jadi, yang mana output dari industri-industri di sektor ini diproyeksikan naik 100% atau lebih. Ekspor dari produk-produk ini diperkirakan naik senilai US$12-14 miliar, yang kurang lebih sama dengan semua kenaikan dari jumlah ekspor Indonesia.

Di sektor pertanian, output dari padi/beras dan komoditi pertanian non-biji-bijian diperkirakan turun sebesar 0,9% (padi/beras, skenario 1) ke 3,3% (non-biji-bijian, skenario 2b). Di sisi lain, dengan memasukkan pertanian di dalam AFTA, Indonesia menjadisuatu negara penting penghasil biji-bijian di ASEAN, dan outputnya diperkirakan naik dengan sekitar 28%. Dalam skim liberalisasi ini (skenario 2b), ekspor biji-bijian Indonesia rata-rata per tahun diperkirakan naik sebesar US$271 juta. Ekspor dari komoditi-komoditi pertanian ke ASEAN dari negara-negara eksportir tradisional seperti Australia dan AS diperkirakan akan turun jika tarif impor untuk ekspor pertanian dari negara-negara ASEAN lainnya diturunkan dalam konteks AFTA. Walaupun tidak terlalu nyata, output dari hewan hidup juga diperkirakan naik dengan 0,6% hingga 1,0%. Ekspornya diperkirakan naik dengan US47 juta dalam skenario 2b dan dengan US$23-27 juta dalam skenario-skenario lainnya.

Tabel 5 Dampak dari Bentuk-Bentuk Liberalisasi Perdagangan terhadap Output Indonesia (% Perubahan)*

Komoditas

Hanya putaran Uruguay (UR)

UR +

Unilateral

Oleh

Indonesia

Skenario I

AFTA

APEC

TP**

Sk.2a

DP**

Sk.2b

TP

Sk.3a

DP

Sk.3b

Beras

Biji-bijian

Bukanbijibijian

Hewan

Kehutanan

Perikanan

Pertambangan

Makanan

Tekstil & pakaian jadi

Olahan lainnya

Minyak, batu bara & kimia

Jasa-jasa

-1,5

-0,9

-2,5

0,6

-7,2

-5,0

-18,8

-1,51

117,6

-8,8

-2,1

0,1

-0,9

0,9

-2,7

1,0

-6,8

-4,6

-17,9

-1,0

106,7

-8,5

-1,0

0,2

-1,5

-0,9

-2,5

0,6

-7,4

-2,1

-19,1

-1,5

117,8

-9,0

-2,2

0,1

-1,8

27,9

-3,3

1,0

-7,6

-2,3

-19,2

-1,9

117,0

-9,3

-2,4

0,0

-1,0

-0,4

-2,1

0,8

-7,2

-4,0

-16,1

-1,0

100,3

-9,2

-0,8

0,2

-1,3

1,3

-2,1

0,9

-7,0

-3,9

-16,0

-1,3

99,7

-9,0

-0,8

0,2

Keterangan: *: hasil yang merefleksikan dampak dengan penghapusan the Multi Fibre Arrangement (MFA); ** TP = tanpa pertanian; DP = dengan pertanian. Sumber: Feridhanusetyawan dan Pangestu (2003).

Tabel 6 Dampak dari Liberalisasi Perdagangan terhadap Ekspor Indonesia (juta US$)*

Komoditas

Hanya putaran Uruguay (UR)

UR +

Unilateral

Oleh

Indonesia

AFTA

APEC

TP**

DP**

TP

DP

Beras

Biji-bijian

Bukanbijibijian

Hewan

Kehutanan

Perikanan

Pertambangan

Makanan

Tekstil & pakaian jadi

Olahan lainnya

Minyak, batu bara & kimia

Jasa-jasa

Perubahan total dalam

ekspor (juta US$)

Perubahan saham dari

ekspor total (%)

Perubahan dalam neraca perdagangan (juta US$)

0

4

703

27

-2

-162

-2.636

-106

14.108

1.601

318

-174

13.682

36,7

434,5

0

3

678

23

-2

-167

-2.669

-136

12.817

841

93

-209

11.272

30,2

427,7

0

4

697

27

-2

-58

-2.280

-98

14.138

1.557

307

-181

13.711

36,8

447,9

0

271

642

47

-2

-61

-2.691

-143

14.066

1.512

287

-186

13.743

36,9

517,8

0

4

703

26

1

-144

-2.404

-147

12.216

698

136

-159

10.930

29,3

433,2

0

4

738

26

2

-137

-2.393

-178

12.192

725

140

-157

10.963

29,4

453,5

Keterangan: *: hasil yang merefleksikan dampak dengan penghapusan the Multi Fibre Arrangement (MFA); ** TP = tanpa pertanian; DP = dengan pertanian. Sumber: Feridhanusetyawan dan Pangestu (2003).

Simulasi lainnya dengan memakai teknik CGE adalah dari Gilbert dkk (1999). Yang menggunakan 3 skenario yakni liberalisasi most-favoured-nation (MFN) tanpa keharusan timbal balik (non-diskriminasi non-kondisional) (A), preferential APEC free trade area (B), dan liberalisasi MFN dengan keharusan timbal balik (non-diskriminasi kondisional) (C), mereka. memprediksi dampak dari liberalisasi perdagangan dunia terhadap beberapa subsektor pertanian, diantaranya subsektor makanan (Tabel 4). Dapat dilihat bahwa untuk semua skenario tersebut, liberalisasi perdagangan makanan tidak menguntungkan Indonesia, berbeda dengan yang diperkirakan dan dialami oleh tiga negara ASEAN lainnya yakni Malaysia, Filipina dan Thailand.

Wilayah/Negara

A

B

C

USS

%

US$

%

US$

%

Australia

Selandia Baru

Jepang

Korea Selatan

Indonesia

Malaysia

Filipina

Thailand

RRC

Kanada

AS

Meksiko

Negara APEC lainnya

Eropa

Sisa dari dunia

Negara Berkembang APEC

Negara Maju APEC

Total APEC

Dunia

3,91

1,60

34,02

-1,42

-0,40

3,85

1,66

6,66

7,46

1,09

7,81

0,60

4,44

-11,53

9,68

24,27

47,01

71,28

69,43

0,91

2,29

0,57

-0,23

-0,12

2,80

1,84

2,09

0,61

0,17

0,10

0,16

0,70

-0,12

0,17

0,78

0,30

0,38

0,20

6,00

3,82

22,39

-2,24

-0,38

2,41

1,22

6,61

-0,90

0,86

11,64

0,45

3,72

-8,51

4,21

13,13

42,47

55,60

51,30

1,39

5,48

0,38

-0,37

-0,11

1,75

1,35

2,08

-0,07

0,13

0,14

0,12

0,59

-0,09

0,07

0,42

0,27

0,29

0,15

6,35

5,89

29,72

-1,83

-0,35

8,69

1,47

9,67

6,89

1,66

25,80

0,40

18,23

16,47

5,51

45,00

67,59

112,59

134,57

1,47

8,44

0,50

-0,30

-0,10

6,33

1,63

3,04

0,56

0,26

0,32

0,10

2,89

0,17

0,10

1,44

0,43

0,59

0,39

Sumber: Gilbert dkk (1999).

Kinerja Ekspor UKM Indonesia

Hingga saat ini industri kecil dan menengah atau usaha kecil menengah (UKM) Indonesia masih lemah dalam ekspor, terutama dibandingkan dengan UKM di negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan Korea Selatan; tidak hanya dilihat dari pangsa ekspor rata-rata per tahun, tetapi juga dalam diversifikasi produk dan kandungan teknologi dari produk-produknya. Data perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan bahwa selama ini nilai ekspor dari (UKM) sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai ekspor total dari non-migas atau nilai ekspor total dari sektor industri manufaktur, walaupun pertumbuhannya selama dekade 80-an hingga 90-an menunjukkan suatu tren yang positif. Seperti yang dapat dilihat di Gambar 1, selama periode 1993-1997, nilai ekspor dari (UKM) mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sekitar 8% . Suatu kenaikan yang signifikan terjadi antara tahun 1997-1998, tepatnya pada saat krisis ekonomi mencapai titik terburuknya, yakni dari US$2,5 miliar ke US$3,7 miliar, atau suatu kenaikan lebih dari 140%. Sedangkan, dalam periode yang sama, nilai ekspor total dari non-migas mengalami suatu penurunan, yang merefleksikan terjadinya kontraksi dalam produksi dan ekspor dari kelompok industri/usaha skala besar karena banyak dari mereka mengalami kesulitan finansial semasa krisis.